Showing posts with label Hadis & Falsafah. Show all posts
Showing posts with label Hadis & Falsafah. Show all posts

Tuesday, 13 August 2019

We Belongs to Allah

She was pretty...

She spent half of her life plucking, waxing, moisturizing, dieting, exercising, brushing, applying make up, tucking this, hiding that, buying this and buying that.

Wore clothes that hung gracefully to her shape, accessories to add taste, fake eyelashes here, fake extension there, piercing this and even willing to do the plastic surgery.

"It is my body," she argued to those who criticized her.

Then, came the day when she died. She was shrouded with just a plain white cloth.

She was left to lay in the dirt where her body will disintegrate to nothing as the maggots feast on the skins she used to take so much care of.

"This is my body," she had argued.

It was never hers but was given by Allah. It belongs to Allah. Only Allah. For it was hers, she'd never have left it behind.

"Indeed we belong to Allah, and indeed to Him we will return." (Quran, 2:156)


Self reminder, 
Qusyaimah Rosman

Monday, 18 March 2019

How to Feel Connection with Allah

Bismillah. 

As a human being, how we want to feel connection with our Creator? How do we feel the present of Allah? How we want to ensure that we are really confident that Allah is always with us? 

1) Make Du'a

Make du'a to Allah s.w.t talk to Him, call on Him, ask of Him. 

"And your Lord said, 'Call on Me, I will respond to you.'" (Ghafir, 40:60)

2) Be Grateful

Think of something that you are very grateful to Allah. 

"Be grateful to Allah. And whoever is grateful for (the benefit of) himself." (Luqman 31:12)

3) Pray Consistently

Prayer isn't for Allah but it's for us. He doesn't need it but we always need Him. 

"It is You we worship and You we ask for help." (Al-Fatihah, 1:5) 

4) Learn about Allah 

Try to understand Him. Obviously, the best book for this is the Holy Quran. Read and reflect! 

"Recite in the name of your Lord who created. Created man from a clinging substances." 
(Al-Alaq, 96:1-2)

5) Strive to Get His Love

Make Allah's love your ultimate goal. Who does Allah love? 

"And do good, indeed, Allah loves the doers of good." (Al-Baqarah, 2:195)

6) Fear Him 

Fear Allah before you commit a sin. Know that he is watching you everywhere. 

"But for he who has feared the position of his Lord are two gardens." (Ar-Rahman, 55:46)

7) Trust Him 

Trusting in Allah means that you trust and believe in His Mercy, His Help, His Wisdom, His Love, and His Goodness. 

"...do not despair of the mercy of Allah. Truly Allah forgive all wrong actions." (Az-Zumar, 39:53)

8) Remembering (Dhikr)

Remembering Allah (dhikr) has a great effect in because it has a special influence and it brings reward. 

"Verily, in the remembrance of Allah do hearts find rest." (Ar-Ra'd, 13:28)

Oh Allah, for Your mercy I hope, so do not abandon me to myself even for a moment. And correct all my affairs. There is no God but You. (Abu Dawood)

Dear friends, may the sharing of this may lead us and guide us to His path and Jannah. We are not perfect, but at least we can be better than before. We can change our life for better future. Insyaa Allah. :')

The Prophet Muhammad peace be upon him said: 
"The one who guides to something good has a reward similar to the one doing it." (Hadith Muslim)


Sinners, 
Qusyaimah Rosman

Monday, 4 February 2019

Why Does Allah Bring People Into Your Life?

Bismillah.

There are moments when we leave them, and then go back to them as well, or they come back to us, but in the end, it was never meant to happen. It's getting too difficult for us to move on with something we couldn't imagine having. We so want to ask this question from Allah directly so that we get to know why does He send some people in our life, makes us live with them and then they leave us. We don't find any lesson except for the pain when they leave. 

Allah brings people into our lives for a purpose, and He then takes them away when their purpose is done. Every experience we have with people we meet is meant to teach us something. When He removes them from our life, we must say "Alhamdulillah" because there is most definitely a lesson we've learned that we can't comprehend at this moment. We'll never really know for sure what roles people play in our life, but if we look back, we'll realize that they have either sparked the cogs of change or have taught us something valuable. 

Allah places people in our lives with a specific times to suit a specific reason and removes them from our lives at specific times. Rather than thinking about why do the leave, think about "Why did the enter that will  make our life meaningful." The life of this world is transitory, it's a journey, and everyone we meet will leave us one day, and someone's leaving may drive us to think about the life - loss and gain. 

Life is all about losing and gaining. Not every friendship or relationship is meant to be what we have imagined. We always imagine a happy ending, but we forget that sad endings also exist. And maybe- just maybe, to teach us to value the people around us who don't want to leave us. 

People come and go. So, learned to appreciate who are still with us through thick and thin. May Allah give us the best friends and partner to lead us to Jannah. Insyaa Allah.

And remember, Allah always knows best. :')

Wallahu'alam.

Strong as always, 
Qusyaimah Rosman

Friday, 14 December 2018

Kesempurnaan

Dalam tidak sedar, kita selalu mencintai sesuatu yang tidak sempurna.
Mencintai bulan dengan permukaan penuh lubang.
Mencintai mawar yang penuh duri.
Tetapi, kenapa kita tidak mencintai diri sendiri, orang lain dan kehidupan ini yang jelas dan nyata ketidaksempurnaannya?

Meski kita rasakan sesuatu itu tidak sempurna, tetapi ia masih indah bukan?

Lihat sahaja pada bulan.
Bulan sangat cantik untuk ditatap pada malam yang gelap.
Bulan sangat indah menerangi segenap pelosok alam.
Bulan tampak sempurna ditatap dari kejauhan.
Hakikatnya, bulan hanya menumpang cahaya mentari.
Permukaan bulan tidaklah seindah tatapan mata yang melihat.

Renung pula pada sekuntum mawar.
Warnanya merona merah menjadi penyeri.
Baunya harum mekar sekali.
Namun, mawar dipagari duri-duri berbisa.
Meski penuh duri, mawar selalu saja dipuja.
Mawar juga sering kali menjadi simbolik cinta.

Tidak semua yang tidak sempurna itu menjadi titik kelemahan kepada sesuatu itu. 
Barangkali, ketidaksempurnaan itulah yang menjadikan sesuatu itu lebih berharga dan bererti.
Hargailah walau apa pun yang ada di sisi.
Hidup ini bukanlah untuk mencari kesempurnaan semata-mata tetapi renung kembali adakah kita selayaknya menjadi pelengkap kepada kekurangan sesuatu untuk menjadikannya sempurna.

Kesempurnaan adalah milik Allah.
Kesempurnaan juga hanya milik Allah.
Tiada yang lebih sempurna dan sesempurna Allah Azza Wajalla.




Insan tak sempurna,
Qusyaimah Rosman


Tuesday, 23 October 2018

Lembaran Kehidupan

Jika kita renungkan, kehidupan ini adalah ibarat sebuah buku. 
Kulit depannya adalah tanda awal kelahiran kita ke dunia. 
Kulit akhirnya pula adalah pengakhiran jalan hidup kita. 

Setiap lembaran yang disingkap adalah gambaran perjalanan hidup kita. 
Halamannya juga berbeza. 
Ada halaman yang tebal, ada juga halaman yang tipis. 
Ada kisah yang sangat menarik untuk dibaca, ada juga kisah sedih sebagai renungan. 
Ada cerita yang membosankan, ada juga cerita yang mendatar. 
Jalan cerita ini akan berkekalan hingga ke hujung usia. 
Tidak boleh dipadam dan tidak boleh diubah. 

Mungkin akan ada halaman lepas yang telah tercatat kisah buruk di dalamnya. 
Mungkin juga ada halaman yang hanya penuh dengan kisah duka. 
Seburuk mana pun kisah lalu, masih ada ruang yang bisa diubah. 
Sepahit mana pun masa lalu, masih ada lembaran putih bersih untuk kita coretkan kisah yang baru. 

Selagi masih ada nafas, kita selalu sahaja akan ada kesempatan untuk memperbaiki kesilapan yang lalu. Kita selalu sahaja ada peluang untuk mencoret kembali kehidupan kita hingga nyawa bercerai dari badan. 

Bersyukurlah kepada Tuhan untuk hari ini, semalam dan akan datang. 
Coretkanlah kisah yang indah agar menjadi kenangan di hari tua. 
Titipkanlah cerita yang baik agar menjadi penyelamat tika dipersembah di hadapan Tuhanmu. 


Salam sayang, 
Qusyaimah Rosman

Sunday, 7 October 2018

Hakikat Bahagia

Apa sebenarnya hakikat bahagia?

Ada seorang kaya, hartanya banyak, dia naik sebuah kereta yang besar, megah dan mewah. Dalam perjalanan dia lihat ke sebelah kanan ada sebuah kawasan padi yang luas dan menghijau. Lalu dia pandang ada kanak-kanak kecil dan ibunya sedang membawa makanan menuju ke pondok usang yang terletak di tengah-tengah kawasan padi tersebut. Kelihatan dari jauh seorang lelaki sedang menanti anak dan isterinya di pondok usang itu. Kalian tahu apa kata orang kaya di dalam kereta itu? 

"Oh, bahagianya petani itu. Di saat perutnya lapar, isteri dan anaknya datang, makanan tiba pada waktunya. Air minum dapat menghilang dahaga. Hilang rindu dan sirna kerana isteri dan anak ada di sisinya. Bahagianya menjadi petani." Bisik orang kaya itu di dalam hatinya. 

Semasa orang kaya berfikir bahawa dia tidak bahagia, si petani bersama anak dan isteri di pondok itu pula memandang orang kaya di dalam kereta itu. Apa kata petani itu?

"Betapa bahagia orang kaya itu bersama-sama kereta mewahnya sedangkan aku hanya duduk di pondok yang usang ini. Menjalani hari yang penuh liku di bawah terik mentari."

Maka, pada hakikatnya kedua -dua manusia ini tidak bahagia.

Lalu sebenarnya bahagia itu di mana?

Mari kita renungkan sejenak contoh yang paling asas. Ada seorang anak yang sedang menuntut di universiti. Dia berasa sangat bahagia apabila dia berjaya menggenggam segulung ijazah. Lalu, setelah dia memperoleh segulung ijazah, hatinya juga masih belum bahagia. Dia beranggapan, barang kali dia akan lebih bahagia jika dia berjaya menyambung ke peringkat sarjana. Namun, setelah dia berjaya menamatkan sarajananya, dia masih juga belum mengecapi bahagia dan mungkin setelah dia berjaya menyambung PhD dia akan lebih bahagia. Setelah berjaya mendapatkan PhD, dia masih juga merungut kerana susah untuk mendapatkan pekerjaan.

Jadi sebenarnya bahagia itu kepunyaan siapa?

Oleh sebab itu, apabila kita banyak membaca kitab, maka kita akan ketahui bahawa makna Sa'adah ialah kebahagiaan. Orang yang bahagia itu pula Sa'id. Bahagia adalah Insyirahus Sadr iaitu ketika hati terasa lapang dengan apa pun yang datang.

Jika pelajar yang mendapatkan ijazah itu hatinya lapang, dia akan bahagia. Jika petani yang berada di pondok usang itu hatinya lapang, tentulah dia bahagia. Jika orang kaya dengan keretanya yang besar itu hatinya lapang, pastinya dia bahagia.

Itulah sebabnya ketika Nabi Musa a.s dalam kesusahan hatinya untuk melawan ayah angkatnya bernama Firaun, dia minta hati yang lapang. Kita semua selalu membaca doa itu :

رَبِّ ا شْرَحْ لِيْ صَدْرِ وَيَسِّرْلِيْ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْ قَوْلِيْ

Ertinya : "Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (Thaaha 20: 25-28)

Oleh sebab itu, walaupun kakinya pecah berdarah, giginya patah, pelipisnya luka menitiskan darah, tetapi dia masih mampu tersenyum bahagia kerana Allah kurniakan kelapangan hati padanya. 

Jika kita menyelusuri kisah-kisah tokoh hebat, hati lapang itulah yang membuatkan Haji Abdul Malik Karim (Buya Hamka) tersenyum di dalam penjara. Penanya berjalan perlahan tapi pasti, maka keluarlah Tafsir Al-Azhar. Hati yang lapang itu juga membuat Syed Qutub tersenyum menghadapi tali gantungan meskipun di penjara oleh Kamal Abdul Nasir tetapi sebelum kematiannya sempat pula menulis tafsir Fizilalil Quran (Under The Shadow of Al-Quran/ Di bawah Nungan Bayang-bayang al-Quran).

Apa kata Syed Qutub di dalam mukaddimahnya?

"Al hayatul fizilalil quran nikmah." Hidup di bawah naungan bayang-bayang al-Quran itu nikmat. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang pernah merasakannya. Maka bahagia adalah ketika hati terasa lapang.

Apabila kita lihat raut wajah orang yang tenang cerah, maka ketenangan bukan pada wajahnya. Apabila lihat orang melangkahkan kaki dengan tenang penuh wibawa, maka ketenangan bukan pada kakinya dan apabila kita lihat ayunan tangannya tidak tergesa-gesa maka bahagia bukan pada tangannya.

Lalu, di mana letak bahagia itu?

Ketahuilah dalam jasad ada segumpal daging, jika yang segumpal itu baik, maka yang lain akan turut menjadi baik. Kalau yang segumpal itu rosak, maka yang lainnya juga akan turut rosak. Dengan segumpal daging itulah yang mengendalikan mata, telinga, tangan, kaki. Dengan segumpal daging itulah tempat berasa rindu, benci, marah, redha, ikhlas, fasik, hasad, dan kufur. Di sanalah bersemayam rindu dan benci. Maka jangan terlampau benci. Kalau sayang, sayanglah secukupnya sahaja kerana boleh jadi hari ini kita sayang esok berubah menjadi kebencian. Kalau kamu benci, bencilah sekadarnya sahaja kerana boleh jadi esok pagi dia menjadi orang yang tersayang.

Maka, jagalah seketul daging itu kerana pada hari itu tidak ada guna harta, tidak ada guna anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dia datang dengan hati yang zalim.  Qalbu itu sifatnya berbolak balik. Qalbu itu tidak selamanya bahagia. Kadang kala pada waktu pagi hati terasa tenang tetapi apabila petang hati menjadi susah. Kadang kala ada waktu pagi hati terasa lapang, apabila masuknya petang, hati menjadi gundah.

Apa yang dapat menolong supaya hati sentiasa lapang?

Ketahuilah dengan banyak menyebut dan mengingati Allah maka hati akan menjadi lapang.

Hati orang beriman berada di antara jari-jemari kuasa Ar-Rahman. Kalau dia hendak dia akan menjadikan yang senang menjadi susah, kalau dia berkehendak yang susah, dia balik menjadi lapang.

Berapa banyak orang yang mungkin kita kata dia susah tetapi dia masih boleh tersenyum. Sebaliknya orang yang menurut pandangan zahir kita cukup segala, tapi tampaknya kesenangan tidak pernah singgah di hatinya kerana hati milik Allah. Hati ada dalam diri kita tetapi hati bukan kepunyaan kita.

Apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi semuanya milik Allah dan ia akan berbalik kepada Allah. Dari Allah balik kepada Allah, senang mengucapkannya, payah mengamalkannya dan lebih sulit memasukkannya ke dalam hati.

Wallahua'alam.



Qusyaimah Rosman 

Wednesday, 30 March 2016

Sabar dalam Reda

Bismillah.

Assalamu'alaikum wbt dan salam mawaddah.

Setiap daripada makhluk yang diciptakan oleh Allah S.W.T tidak akan pernah lari daripada ditimpa ujian. Ujian yang diberikan oleh Allah itu adalah salah satu tanda kasih Allah pada hamba-Nya. Jika ingin dibandingkan ujian yang diberikan ke atas kita dengan ujian yang ditimpakan ke atas para anbia' adalah seperti langit dengan bumi. Namun, atas dasar ketakwaan dan keimanan yang tebal dalam jiwa mereka, ujian seberat dan sebesar apa pun dapat ditempuh dengan tenang, sabar dan reda.

Firman Allah S.W.T yang bermaksud,

"Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepada kamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214) 

Mengapa kita diuji?

Firman Allah S.W.T yang bermaksud,

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2) 

Oleh itu, setiap kali ditimpa ujian, masalah dan musibah, suka saya mengingat kembali bait-bait abidah yang agung ketika zaman tabiin dahulu.

Rabiatul 'Adawiyah ketika ditanya mengenai sifat reda, jawabnya:

"Seseorang itu mampu mencapai maqam redanya apabila bergembira dengan musibah yang menimpanya seperti mana dia bergembira dengan nikmat yang diterimanya."

Maka, dengan kata-kata ini, saya sentiasa mendidik hati untuk bersyukur dengan penuh reda atas setiap kecelakaan yang menimpa saya seperti Allah melimpahkan rahmat-Nya yang tiada tolok bandingnya.

Moga saya, kamu dan kita semua senantiasa dalam pelukan kasih dan reda-Nya.



Salam sayang,
Qusyaimah Rosman 

Sunday, 22 December 2013

We Rise From Our Past

Bismillah.

Assalamu'alaikum w.b.t.

   Alhamdulillah, we get to live to see another beautiful and harmonious day made by our Creator. Lets make du'a and seek repentance which is one way the mind and the heart will be calm and be peaceful.

   Throughout our life, there will always have the horrible dreams that probably has come true in our life. Sometimes, we don't want to remember it and don't want to face it. Now, lets all just try to forget all the terrible things from the past that happened to us, whether it is from our childhood until the present of our adulthood.

   Many people keep asking " how to forget our past ?" The best answer is just focus on the future and the present. Enjoy all the things that is in front of you, whether you like it or not still you have to go through it. That's what we called it as LIFE. Everyone has been given only the one chance to be a caliph in this world. Try our best to be a better one, to seek for the forgiveness and the merciful. Allah is all loving and generous.

   Anonymous has said " people change as time flies, but memory may remain ". We grow so fast that we didn't flashback at what we do few years back, it may seem that we don't want the memories to haunt us again but there still a good side to this. There is still a little bit of pieces that we can take from our past memories such as all the experience we has through as well as our momentum in life. These two would be considered as the main power to our survival for seeking the real meaning of life. To make the journey of life is always been on the right path.

   We can defined the experience of life as knowledge that we gained from action of our past, which is will remind us of what should we do correctly if maybe something happen twice. We can learn how the best way to cope with the problem and face it with the rational thinking as Allah has given the precious give known as aql'.

   Dearest, every one knows, once we fall our momentum might be declined really bad. Probably really down that we think we don't have the strength to get back up and all hope may seemed lost. Nevertheless, be remembered ! We still have the chances to rise up and set our momentum straight again by gather all our confidence, mentally and physically strength. Pray to Allah to set up our intention straight, ask for His guidance so that we will always in the correct path. Allah is always with us.

   Let us rise and take all the distances memories into experience that may make us cherish. Let us ponder into the future, once we rise, greater things will come to us and only the strong one are willing to take the risk. We should remembered that Allah is near to us. We just need to raise our hand and insyaa Allah, He will help us no matter how the obstacle is. He will show us the way and maybe the easiest way. He just give us the guidance and it's up to us to walk or just let the things like nothing happened BUT there is no reward if there is no effort.

   Dearest friends, just forget all people around you who want to put you down, who just messy up your life as they just wanna see us fallback. They do this because you are the one further step away from victory. Them? just a friction between you and the victory. Allah is always with us and always helped us in whatever condition as the Quran said,

Allah is sufficient for us. [ Quran, 3:173]

   As a caliph, as a human being we are always need Allah in our life. We must always ask for His guidance then, He will show us the right path if we wanted to. Without Him, we may never rise from our fall. He aid us in so many ways that we couldn't thank Him enough.

Which then of the bounties of your Lord will you deny? [Ar-Rahman: 36]
 

 
Love,
Qusyaimah Rosman.
   

Monday, 23 September 2013

Perangi musuh Allah.

Bismillah.

Assalamu'alaikum w.b.t dan selamat pagi.

     Apabila online pada pagi ini, saya terpandang satu post di Facebook yang cukup menarik untuk dijadikan peringatan buat diri yang kadang kala berperang dengan nafsu dan godaan syaitan yang direjam. Status tersebut menyentuh tentang musuh Allah iaitu tugasan syaitan yang tidak pernah berputus asa untuk menyesatkan umat manusia.

     Mereka yang telah mengucap dua kalimah syahadah dan sudah berjanji (berbai'ah) pada diri dan agama untuk menyampaikan dakwah adalah golongan musuh kepada syaitan. Maka, bersedialah untuk menerima cabaran atau hasutan yang kuat untuk melakukan maksiat (rohani dan jasmani) supaya kita tewas dalam medan pertempuran.

     Iblis telah berkata : " Oleh kerana Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan daku tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat menghalangi mereka (dari menjalani) jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku datangi mereka, dari hadapan mereka serta belakang mereka, dan dari kanan mereka serta kiri mereka; dan Engkau tidak akan dapati mereka semua bersyukur. "
[ Al-A'raf : 16-17 ]

Antara syaitan yang sentiasa berusaha menyesatkan manusia ialah :

1- Qarin : Mendampingin manusia sejak lahir untuk mengajak, merayu dan menipu supaya menyimpang jauh dari jalan yang diredai Allah.

2- Al- Wilhan : Menggoda dan mengganggu manusia yang sedang berwuduk.

3- Al- Hinzab : Mengganggu manusia yang sedang solat.

4- Thibr : Bertugas khusus untuk membinasakan manusia.

5- Awar : Menggoda manusia untuk melakukan zina.

6- Mabsut : Membisikkan manusia supaya berdusta.

7- Dasim : Bertugas semata-mata menjadikan supaya manusia bersengketa dengan keluarga.

8- Zalanbur : Bertugas di pasar-pasar membisikkan dan memberansang manusia supaya melakukan penipuan semasa menjual beli.

Renung-renungkan wahai sahabat.





Salam kasih,
Qusyaimah Rosman.


Friday, 30 August 2013

Kata-Kata yang Baik

Bismillah.

Assalamu'alaikum w.b.t dan salam ukhuwah.

Mari sama-sama kita hayati kata-kata pujangga, maruah seseorang terletak pada lisannya iaitu kata-katanya. Islam adalah agama yang amat mengambil berat mengenai maruah dan harga diri. Oleh sebab itu, Islam memerintahkan umatnya sentiasa menjaga lidah dengan mengeluarkan perkataan yang baik-baik. Hal ini selaras dengan firman Allah s.w.t yang bermaksud : 

" Dan mereka diberi petunjuk kepada mengucapkan kata-kata yang baik serta diberi petunjuk ke jalan Allah Yang Amat Terpuji." [ Surah al-Hajj : 24 ]

Perkataan yang baik bukan sekadar kata-kata molek yang keluar dari mulut seseorang. Tetapi ia juga merangkumi bentuk sedekah yang bermanfaat, yang boleh digunakan untuk kesejahteraan hidup bermasyarakat dan kebahagiaan abadi. Dalam hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :

" Dan ucapan yang mulia itu adalah sedekah." [ Riwayat Bukhari dan Muslim ]

Perkataan juga diibaratkan mata pisau yang tajam. Perkataan yang dikeluarkan akan mencerminkan nilai dan darjat individu. Oleh sebab itu, Rasulullah s.a.w pernah berpesan : 

" Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata dengan baik atau mendiamkan diri saja." [ Riwayat Bukhari dan Muslim ]

Rasulullah s.a.w juga menegaskan perkataan yang baik mempunyai nilai yang sama dengan amalan soleh yang lain. Hal ini seperti sabda baginda s.a.w yang bermaksud :

" Peliharalah diri kalian semua daripada api neraka walaupun dengan hanya memberikan sebiji kurma. Oleh itu, sesiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia menggantikannya dengan perkataan yang baik." [ Riwayat Bukhari dan Muslim ]

Renung-renungkan dan selamat beramal.






Cintailah cinta,
Qusyaimah Rosman.